Mendongeng dan Membacakan Buku

http://wp.me/p2EEZ6-dY

chicken-reading-to-chicks1

Mendongeng (storytelling) dan membacakan buku (reading aloud) untuk anak adalah dua kegiatan yang berbeda. Walaupun manfaatnya sama besar, masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri dan tidak bisa saling menggantikan. Artinya, untuk mendapatkan manfaat optimal, gunakan keduanya, bergantung pada situasi dan kondisi.

Indonesia memiliki tradisi mendongeng (lisan) yang kuat, dan menjadi sarana kedekatan orangtua dengan anak. Tetapi sebagaimana hal lainnya yang terancam punah tergerus arus modernisasi, mendongeng juga mulai terkikis dari tradisi keluarga. Orangtua hampir tak punya waktu lagi untuk mendongeng dan menganggap itu adalah tugas kakek/nenek atau guru-guru di sekolah. Sementara anak-anak juga terserap oleh gadget yang lebih interaktif.

Di lain pihak, membacakan buku kepada anak belum dipraktikkan luas di Indonesia, dan kebanyakan orang masih menyamakan kegiatan ini dengan mendongeng. Di negara-negara yang tingkat literasinya sudah maju, reading aloud terbukti menjadi pencetus  budaya baca (yang diikuti budaya tulis sebagai konsekuensi logisnya).

Berikut adalah tabel perbandingan dua kegiatan itu.

Mendongeng

Membacakan Buku

Menuturkan kembali sebuah cerita (bisa bersumber dari cerita tertulis atau tradisi lisan), dan memodifikasinya dalam bahasa lisan yang interaktif. Menyampaikan isi buku/teks tertulis, kata demi kata  (modifikasi ke bahasa lisan seperlunya saja), dengan intonasi menarik.
Inti dari kegiatan mendongeng adalah sejauh mana Anda bisa memodifikasi sebuah cerita dengan intonasi, gestur, dan dramatisasi untuk memikat pendengar.Dari lisan akan menghasilkan lisan pula. Anak-anak yang biasa didongengi, cenderung terampil bercerita/berbicara (biasanya dengan kosakata dan tata bahasa bebas/gaul meniru si pendongeng). Membacakan cerita bertujuan mendekatkan anak dengan teks dan ilustrasi dalam sebuah buku. Anak diajak memperhatikan keindahan bahasa tulis dan ilustrasi dengan lebih dekat.Karena anak-anak terbiasa mendengar bahasa tulis, rasa bahasanya akan terasah. Anak tanpa sadar menyerap elemen-elemen cerita, seperti dialog, deskripsi, karakter. Mereka juga terpapar dengan alur (awal, tengah, akhir) dan bagaimana ketegangan dibangun. Itu sebabnya, anak-anak yang biasa dibacakan buku, jatuh cinta pada buku, dan akan terpicu menulis.
Mendongeng membutuhkan alat peraga seperti boneka tangan/jari, kostum, dan lain-lain. Terutama jika dilakukan di depan sekelompok audiens, untuk menjaga atensi anak yang mudah sekali teralihkan. Alat peraga tidak diperlukan dalam kegiatan membacakan buku. Karena perhatian anak akan terfokus kepada buku. Membacakan buku cenderung menjadi sarana kedekatan fisik dan emosional antara orangtua dan anak, karena untuk memperhatikan buku bersama-sama, mereka harus duduk berdekatan. Biasanya anak kecil dipangku ayah/ibunya. Membacakan buku adalah kegiatan personal.
Atau kalaupun dalam kelompok, hanya terdiri dari beberapa orang saja, dan memerlukan buku yang cukup besar.
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa kemampuan mendongeng berkaitan dengan kemampuan teatrikal seseorang, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melakukan ini di depan banyak orang.Untuk kegiatan personal, orangtua tak perlu khawatir, tanpa bakat teatrikal pun, anak biasanya senang mendengarkan dongeng karena identik dengan kebersamaan dan perhatian. Membacakan buku bisa dilakukan hampir oleh siapa saja. Buku menjadi kekuatan Anda. Dari cara Anda memegang buku, mengucapkan kata-kata, membalik halaman, menunjuk teks dan gambar, akan memberikan pengalaman membaca yang berbeda pada anak, daripada ia membaca sendiri.  Jadi, Anda tak harus memeragakannya dengan dramatis.
Cerita yang cocok untuk didongengkan adalah cerita dengan plot sederhana, alur dan tempo yang dinamis (memiliki ketegangan /suspense), serta ditunjang dengan karakter tokoh-tokoh yang menarik. Cerita-cerita rakyat, fabel, dan dongeng memenuhi kriteria ini. Buku-buku yang baik untuk dibacakan adalah buku yang memiliki narasi yang indah (misalnya berima), atau yang memiliki ilustrasi yang artistik. Cerita dalam kategori ini temponya lebih lambat (berpusat pada satu kejadian pada satu waktu).

Dan untuk anak-anak lebih besar, novel bisa dibacakan secara bersambung. Novel yang bagus, tiap akhir babnya menjanjikan kelanjutan yang lebih seru dan ini menjadi momen yang ditunggu anak-anak.

Setelah mengetahui bedanya, orangtua dapat memanfaatkan dua sarana ini untuk meningkatkan kualitas kebersamaan dengan anak, sekaligus memberi mereka manfaat lebih. Barangkali juga akan menjawab banyak pertanyaan seperti, kenapa anakku tak suka menulis padahal sering didongengi; kenapa anakku tidak suka membaca padahal sering kubelikan buku (tapi tak pernah dibacakan), dst.

Buku, literasi, anak-anak, orangtua, adalah sebuah lingkaran solid untuk menangkal banyak permasalahan moral yang disebabkan oleh iliterasi di kemudian hari. Lebih mudah dan murah membacakan buku/mendongeng ketimbang menghadapi permasalahan seperti bullying, depresi, dan kenakalan anak-anak lainnya, yang timbul karena mereka tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan di rumah. Cinta dan kedekatan.

 

image dari http://forum.tis.edu.mo/grade1/?p=1979

Iklan

Kami juga hadir di instagram

Silahkan follow instagram kami @bonekapuppet untuk mengetahui update contoh boneka tangan buatan tsabitaboneka…kedepannya kami juga ingin menjual¬†ready stock boneka tangan atau boneka jari baik buatan kami sendiri ataupun selain kami.

12744059_1034621833247583_5025559008919856037_n

Atau like FP kami Tsabita Boneka.https://www.facebook.com/TsabitaBoneka/